Hari gini punya Asset gak punya Proteksi

hujan lucu
sumber gambar : internet

Salam sejahtera untuk kita semua, saya mau berbagi pengalaman saya tentang pentingnya perlindungan atas asset yang kita miliki

Cerita ini bermula pada tahun 1997 dimana saat itu saya masih sekolah di salah satu SMU swasta di Jakarta pusat.
Ketika saya sedang belajar di kelas tiba2 ada pengumuman bahwa ada kebakaran di wilayah Jakarta Utara di daerah Pademangan lebih tepatnya di Ampera 7, bagi murid2 yang memiliki rumah di sekitar pademangan dan ampere silahkan menghubungi rumah masing2 atau bagi murid2 yang ingin pulang silahkan pulang.

Dengan nada cemas saya buru2 mencari uang logam lalu minta ijin untuk ke telepon umum mau mengubungi rumah saya, tut tut tut . . . . . suara nada telepon rumah tidak ada yang angkat membuat saya semakin panic dan cemas. Langsung saya berlari secepatnya menuju kelas dan membereskan tas sekolah saya kemudian meminta ijin kepada guru kelas untuk pulang.

Saya naik bajaj untuk pulang kerumah, di tengah perjalanan yang agak macet membuat saya semakin keringat dingin karena banyak sekali mobil pemadam kebakaran yang melewati bajaj yang saya tumpangi. Akhirnya tibalah saya di daerah mangga dua dan abang bajaj yang saya tumpangi berkata “ Dik sudah tidak dapat bergerak masuk karena jalanan menuju kearah rumah adik sudah ditutup” saya melihat kalau gang/jalanan menuju rumah tertutup oleh portal dan mobil pemadam kebakaran, kemudian saya membayar biaya bajaj tersebut dan turun dari bajaj, saya mencoba berlari dan menerobos portal yang menutup jalan menuju rumah saya dan mencoba mencari kedua orangtua saya atau keluarga saya yang lain.

Kabut asap sudah cukup besar dan api semakin menggulung dikarenakan angin yang cukup besar saat itu, rumah orangtua saya memasuki gang yang agak sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua buah motor, persis didepan gang saya hanya dapat melihat dan dengan tubuh lemas saya menatap gang yang sudah tidak bisa dilewati oleh orang karena besarnya api di gang tersebut, saya mencoba memutar mencari jalan alternative menuju kerumah orangtua saya, dijalanan saya melihat api yang melalap beberapa rumah dan sepanjang jalan begitu banyak orang yang menangis karena rumah mereka terbakar habis oleh api, “Mama mama mama dimana . . . . ” saya melihat seorang anak yang menangis mencari ibunya, anak itu digendong oleh kakaknya untuk dibawa ketempat yang lebih aman.

Lelah, panas, bau asap yang tebal, mata yang berair karena perih oleh asap membuat saya putus asa karena masih belum menemukan satupun dari keluarga saya baik itu kakak maupun orangtua saya, saya mencoba berfikir apa yang akan dilakukan oleh orang ketika melihat rumah mereka terbakar oleh api “mencari tempat yang aman” itu yang terpikir dalam benak saya saat itu, saya berlari menuju ke beberapa tempat pengungsian dan jalanan yang agak jauh dari lokasi kebakaran dimana banyak orang tua khususnya wanita dan anak2 beristirahat, menunggu, berharap, dan menangis. Satu demi satu saya mencari keluarga saya di tempat pengungsian akhirnya saya bertemu dengan kedua orang tua saya dimana mereka sedang berjalan sambil membawa beberapa buah koper yang dianggap penting buat mereka.

Perasaan senang dan senyum menghiasi wajah saya karena saya melihat bahwa keluarga saya selamat, otak saya sudah cukup stress saat itu sehingga tidak bisa berpikir apa2 hanya senang karena kedua orang tua saya selamat. Kebakaran tersebut terjadi pada pukul 10 pagi hari dan baru bisa dipadamkan apinya oleh puluhan mobil pemadam kebakaran pada sore hari menjelang malam, kesulitan mereka dikarenakan rumah penduduk yang berdekatan dan jalanan yang tidak dapat dilalui oleh mobil. 1500 lebih rumah warga habis terbakar 4 RW tekena musibah kebakaran, lebih dari 2000 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal mereka.

Kami sekeluarga pergi mengungsi kerumah papa saya punya kakak di daerah kartini, malam hari saat semua tidur terlelap saya terbayang rumah saya yang habis terbakar sehingga tidak bisa tidur dan berpikir berapa lama kita membangun rumah itu lagi, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dari mana uang itu semua untuk membangun rumah orang tua saya kembali. Karena tidak bisa tidur saya keluar kearah taman dan menatap ke langit hanya bisa berdoa dan berharap terjadinya keajaiban agar kami sekeluarga dapat berkumpul kembali di rumah kami. Sebuah tepukan kecil di pundak membuat saya kaget, ternyata kakak saya yang kedua juga tidak dapat tidur dan bertanya “ kenapa bengong sendirian? “ , “ mikirin rumah “ jawab saya , “kenapa dengan rumah? Sudah kejadian tidak ada yang perlu disesali, nasib itu ditangan Tuhan, ayo kita istirahat karena besok banyak yang harus dikerjakan” kata kakak saya, akhirnya kami berdua balik ke kamar dan tidur.

Keesokan harinya kami sekeluarga menuju ke lokasi rumah kami yang habis terbakar, hawa disana masih cukup panas, asap masih ada yang keluar dari kayu2 yang sudah kering dan jalanan sangat bau dengan air kali karena air itulah yang dipakai oleh penduduk saat berusaha mematikan api yang melalap rumah mereka.

Kami menerima bantuan keuangan dari beberapa teman, kerabat, sekolah, dan keluarga kami, tetapi semua uang sumbangan tersebut sangatlah kecil dibandingkan biaya yang harus kami keluarkan untuk membangun rumah kami. Di suatu malam hari beberapa hari setelah hari bersejarah dalam hidup kami, papa mengumpulkan kami sekeluarga dan berkata kalau kita harus irit2 dan menabung serta bersabar, karena papa saya tidak tau berapa lama proses pembangunan rumah kami hingga dapat kami tinggali kembali dan berapa lama proses dalam mengumpulkan uang agar dapat membangun rumah itu.

Saya sekeluarga hanya bisa terdiam saya mendengar hal itu terucap dari mulut papa saya, semua hanya terdiam, akhirnya kakak saya yang nomor dua berkata “ Kita berdoa yuk agar klaim kita diterima dan dibayarkan “ , “ Klaim apa?” Tanya papa saya, “Klaim asuransi rumah” kata kakak saya, “Kita tidak punya asuransi rumah” kata papa dengan nada sedikit menyesal karena sering sekali ditawarkan asuransi rumah tetapi merasa bahwa asuransi itu hanya buang2 uang saja, tetapi saat ini sepertinya papa saya merasa sedih dan mungkin berpikir seperti ini “ andai saja saya sudah memiliki asuransi maka saat ini saya tidak akan pusing “, kakak saya bicara “ Saya baru saja memasukan rumah kita dalam sebuah asuransi tetapi baru berjalan selama 3,5 bulan, jadi mari kira berdoa agar klaim tersebut diterima dan dibayarkan “ , “ benarkah rumah kita kamu asuransikan? “ Tanya papa saya seperti tidak percaya, “ yup “ jawab kakak saya. Kami sekeluarga seperti menerima angin segar mendengar hal tersebut, kemudian kami sekeluarga berdoa dan memohon agar klaim tersebut diterima dan dibayarkan secepatnya.

Dua minggu telah lewat dan akhirnya kakak saya memberikan kabar gembira bahwa uang pertanggungan sudah keluar sehingga kita bisa mulai membangun kembali rumah kita, saat itu klaim yang diterima hanyalah cukup untuk membangun 50% rumah kami ( karena nilainya sesuai dengan besarnya polis serta uang pertanggungan yang di inginkan oleh kakak saya ), tetapi kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup kami bahwa “ KITA HARUS MEMILIKI ASURANSI ATAS ASSET YANG KITA MILIKI ”.

Cerita diatas merupakan pengalaman saya pribadi yang terjadi dalam keluarga kami, semoga cerita tersebut dapat memberikan gambaran betapa pentingnya mengasuransikan asset kita yang berharga agar kita memiliki semacam proteksi apabila asset kita tersebut mengalami masalah dan musibah.

Thanks & Regard
Johanes Dharmawan

One thought on “Hari gini punya Asset gak punya Proteksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s